Energy Level = 100++%!

Setelah membuat sebuah tulisan sambutan dan janji, anak ini malah menghilang dimakan kekecerannya sendiri. Rencana-rencana berakhir wacana, cerita-cerita numpuk dalam kolom draft tanpa diselesaikan. Mau minta maaf, salahnya ke diri sendiri juga. Susah. Jadi…yaudahlahya.

Untuk waktu yang sungguh sangat langka, anak ini (mari mulai menggantinya dengan sebutan ‘aku’) sekarang sedang dalam keadaan di mana energinya sangat meluap tapi tidak sampai ingin meledak. Kalau dikonversikan dalam angka, mungkin berada pada sekitar bilangan 150%, i’m surprised! padahal rasanya baru kemarin berhari-hari mengurung diri di kamar kalau tidak ada tanggungan keluar, merasa kosong, mendengar lagu-lagu sedih rekomendasi teman (i love you tweet fellas!), menangis sendirian, dan berakhir tidak melakukan apa-apa. Jika ada keharusan keluar dan bertemu orang lain, yang ada aku banyak diam karena energiku tinggal sisa-sisa. Pun beberapa kali kuingat aku sempat sengit ke orang-orang dan berbicara dengan nada tidak mengenakkan (yang tentu kusesali) pada beberapa orang dalam masa kerja PPSMB lalu karena emosiku sedang pada puncak-puncaknya minta diledakkan. Mengenai PPSMB ini, selengkapnya kusimpan untuk bahasan selanjutnya karena tulisan ini harus senang! Yay!

Sejenak aku mbatin, kok ya bisa dari yang kemarin bentar-bentar bilang ingin ndusel-butuh peluk-diem-njuk nangis langsung berubah semangat dan segar, juga nggak lagi takut ketemu orang? Kalau diingat-ingat, aku nggak melakukan banyak hal tapi sebagai seseorang yang mudah sekali merasa terganggu oleh pikirannya sendiri, aku tahu betul hal-hal yang bisa membuatku senang kembali -walau tidak selalu ada jaminan gangguannya akan pergi atau tidak-, salah satunya dengan kabur sejenak.

Kaburku kali ini nggak bisa jauh karena terbatas waktu, nggak ngabisin banyak duit karena alhamdulillah ada saja rezeki datang, juga nggak terencana karena ya aku impulsif dan berhubung akhirnya ditemani aku jadi manut wae mau dibawa ke manaNambah diingat-ingat lagi, kaburku ini nggak mulus juga. Mulai dari ketinggalan kereta saat berangkat jadi harus nunggu keberangkatan selanjutnya, lapar sepanjang jalan, tidak bisa berdamai dengan udara dingin kota sebelah yang brr af, kejebak macet karnaval 17-an sejam penuh dan harus putar balik meninggalkan tujuan dolan, nggak dapat jajanan-jajanan yang ingin dicoba karena tokonya tutup, dan lain-lain. Eh tapi nggak buruk-buruk juga kok, karena kabur ini aku jadi tahu rasanya ikut tirakatan (seumur-umur nggak pernah ikut kumpul warga merayakan 17-an kayaknya) walau nggak paham apa yang dibicarakan karena pakai bahasa lokal. Nggak hanya itu, aku jadi tahu juga jalan Boyolali bisa nembus Magelang, so wow mendadak aku buta peta dan buta arah karena kok ya rasanya di manapun kamu berada kamu  bisa nembus ke mana-mana. Terakhir, aku sempat merasakan lihat gunung dan orang-orang yang bahagia karena akan/habis mendaki terus mampir beli brokoli segar berukuran besar dengan harga Rp5000 saja.

Sampai akhirnya aku duduk di kereta dalam perjalanan pulang, entah kenapa rasanya aku nggak bisa nahan senyum senang padahal beberapa pekerjaan sudah meraung minta diperhatikan. Sampai akhirnya aku berada di setengah perjalanan Solo-Yogya setelah seharian bepergian, badanku nggak ngerasa lelah sama sekali malahan ingin nerus pergi sana-sini dengan alasan “mumpung energinya masih ada jadi harus dimanfaatkan dengan baik”. Sampai akhirnya aku tiba di rumah, sendirian, hingga menempel kuat di kasur kamar aku pun nggak merasa hampa seperti biasanya atau sedih selayaknya ‘sindrom habis main’ yang biasa menjangkit. Juga sampai akhirnya aku nggak bisa tidur hingga pukul 5 pagi dengan hanya glundungan dan menatap langit-langit kamar, aku tetap senang.

Terima kasih banyak pada seorang teman yang rela menampung dan menemaniku dua hari penuh dengan (semoga) sabar, pada jarak kurang lebih 2 jam dari Jogja yang mengizinkan aku menghirup udara yang tak membuat sesak, juga pada sinyal hp yang sungguh baik karena dia tidak bisa difungsikan ketika aku (sejujurnya) memang ingin menghindari segala macam kontak tanpa rasa bersalah. Karena tiga hal tadi, aku berhasil kabur saudara-saudara! Mungkin memang tidak terlihat istimewa tapi setiap kebahagiaan punya haknya untuk dirayakan bukan? KKK~

Walau kabur sering dipandang sebagai suatu hal yang buruk, jangan gentar yah. Terkadang kamu harus meluangkan waktu untuk memeluk diri kok sebelum merangkul orang lain. Cheers!

170817

Pemanasan: Usaha Bahagia dan Menghilangkan Kemalasan (Tidak Penting)

Awal membuat blog, anak ini hobi sekali menceritakan tentang hal yang dialaminya sehari-hari (yang sebenarnya nggak pernah menarik pun nggak penting-penting amat), since i’m a mediocre. Entah kenapa saat itu rasanya menyenangkan, tapi entah sejak kapan pula rasa senangnya tidak lagi bisa dinikmati karena sering sekali terpikirkan “ya ampun penting nggak sih aku nulis gini?”, “malu nggak ya nanti aku?”, dan berbagai halah-halah lainnya yang sebenarnya hanyalah alasan dari kemalasanku saja mungkin.

Beberapa bulan lalu, di lingkup anak (atau alumni juga) komunikasi diadakan lagi sebuah kegiatan(?) bernama 31 hari menulis yang mana para pesertanya diwajibkan untuk menulis apapun di laman blognya masing-masing dalam waktu 31 hari, kalau tidak kapak melayang (re: kena denda sebanyak 20 ribu rupiah/harinya). Karena tertarik, aku pun cukup rutin membaca tulisan-tulisan para pesertanya. Ndak ikutan karena merasa nggak punya waktu (alasan 1), nggak punya ide menarik (alasan 2), dan halah-halah lain (alasan 999+) yang yha sudah dituliskan di paragraf sebelumnya. Dari yang awalnya menikmati kisah-kisah atau tulisan mereka yang lucu, jujur, dan ada pula yang membuat geli aku sedikit tertampar. Pernah suatu hari aku mengirim pesan singkat pada salah satu penulis yang selalu berhasil bikin greget dan hati mencelos setiap selesai membaca tulisan panjangnya. Kubilang “aku iri”, balasnya panjang mulai dari pertanyaan kenapa aku harus merasa begitu sampai pada penjelasan bahwa menulis dan berbagi cerita baginya adalah terapi, dan masing-masing orang punya caranya tersendiri untuk menyenangkan diri jika itu bukan caraku maka tidak perlu dipaksakan, tambahnya lagi. Tapitapi…aku lalu heran, kalau dulu aku bisa merasa senang melakukannya, dan bahkan orang lain merasakannya sebagai obat kenapa malah sekarang aku merasa takut akan hal yang harusnya kunikmati. Sulit mengetahui jawabannya.

Sambil memikirkan kenapa-mengapa yang sejujurnya menambah daftar panjang ke-stress-an, aku mulai memberanikan diri menulis lagi. Meracaukan ini itu, menyusun momen yang ingin terus kuingat dalam baris cerita, dan membacanya lagi sambil mengingat-ingat. Tidak terhitung berapa banyak yang akhirnya tertimbun di kolom draft, juga yang hilang dihapus karena…ya karena. Tapi belakangan waktu, dorongan untuk menuliskan hal-hal tertentu semakin jadi, mungkin simply karena aku sedang merasa jauh dengan banyak orang dekat yang sibuk dengan hidupnya masing-masing hingga tidak ada waktu untuk saling bercerita, atau justru aku yang memang lebih nyaman dengan diri sendiri jadi nggak ingin bercerita secara langsung dengan mereka? ha mbuh.

Karena rasanya sudah kepanjangan, intinya aku akan berusaha mulai menulis keseharian atau ini itu lainnya dalam usaha bikin diri sendiri senang dengan melepaskan beberapa pikiran di kepala biar dia hilangnya nggak karena keburu meledak, juga dalam usaha menghilangkan kemalasan dan perang melawan alasan-alasan halah yang mbuh-mbuhan. Tulisan (yang sudah kuperingatkan) tidak penting ini dibuat sebagai pemanasan, juga pengingat biar pas nanti aku takut bisa balik lagi ke rencana awal, juga kalau tiba-tiba malas aku jadi malu sendiri. Hah, yawda! Bye!

Selamat berbahagia :3

Peluk #2

Yang pertama, malu-malu menyambut terima kasihmu

Kali kedua, lelah bukan penghalang justru jadi alasan

Ketiga kalinya, kutanamkan bibit rindu dan mari nikmati buahnya ketika nanti musim baru tiba

Selanjutnya, menanti masa. Sembari nikmati perasaan geli-geli-gila.

Aku Jatuh Cinta Tiap Minggu dan Selasa

Kenapa dua hari saja?

Spirit Fingers rilis hanya dua hari tiap pekannya. Tiap dua hari itu, pasti berdebar aku dibuatnya. 

Selain itu?

Belum ada ‘tiap-tiap’ lagi yang bisa kupastikan. Baik debaran atau patah hati lain, seringnya datang seperti kejutan. 

Temanku Menghilang

Kupikir diculik orang

Tahunya terlalu asyik bermesra dengan kekasih

Yang tak sekali dua kali mengatainya jalang

Kubilang bodoh, balasnya terlanjur sayang

Kutinggalkan pun dia diam

Tak lagi butuh berkawan, ia kenyang nikmati rayuan

Peluk #1

Tempatku sekarang sudah penuh boneka, tak perlulah kamu jadi salah satu di antaranya. Menjadi penggembira yang tak merasakan aku ada. Menjadi sosok yang diam saja enggan bicara.

Sayang, ingin aku kau peluk sekali saja. Sejenak rasakan aku yang putus asa, dekap aku sebagai pengganti kata yang selalu sendiri kamu jaga. Jika ternyata nanti kamu suka, selamanya, boleh juga. 

Sesak [Repost from Tumblr]

Semalam aku bermimpi, dia yang biasa menyapaku dengan senyumnya dan menghiburku dengan candanya justru berjalan lemah menghampiri dengan kepala tertunduk dan napas letih, seolah berkarung-karung bebas membebani punggungnya yang kali itu berbalut baju putih yang tak lagi bersih, sisa tanah bercampur air mata.

Kupanggil namanya lirih, sekali dua kali hingga ketiga pun masih tak ada jawabnya. Ia hanya berjalan pelan dan setibanya ia di hadapanku, aku pun hanya bisa bungkam. Lama kami terdiam, dengan aku memandangnya bersama ketidaktahuan akan melakukan apa juga ia yang menjaga isaknya tetap pelan terdengar.

“Boleh aku peluk kamu?” tanyaku mulai tak tahan. Isaknya semakin pelan terdengar seiring ia mengangkat wajah, ganti memandangku dengan mata bengkaknya yang memerah.

Read More

Entah Mana yang Lebih Mendebarkan;

Pengalaman mendaki gunung lewati lembah dengan degup jantung nggak karuan dan napas engap-engapan, atau
Dibuat tersipu dugeun-dugeun ottokhae untuk setiap hal kecil yang begitu lekat hingga rasanya sulit untuk diceritakan dalam baris kalimat.

Untuk pikiran yang hebatnya bisa mengalahkan lelah badan hingga membuat terjaga semalaman, kuberi kamu satu jawaban.

Tanpa memedulikan manapun yang lebih mendebarkan…

Aku senang.

Kisah Gincu Kemarin Hari

#1

Entah mana yang lebih menyebalkan, kelewatan kelas pagi karena tidur yang kebablasan atau terbangun dari tidur yang kurang karena cemas yang tiba-tiba melanda semalam. Tidak ingin lebih lama lagi memikirkan keduanya apalagi menyesal karena berakhir tidak melakukan apa-apa menjadi sebuah motivasi untuk bangkit dan bersiap diri. Peduli apa dengan dosa, kebablasan ini bukan saya yang minta. Maka dari itu saya pergi absen juga, demi menjaga jatah bolos tiga kalau-kalau nantinya ketidakwarasan ini sampai melebihi puncaknya. Read More